Sunday, March 06, 2011

Dedemit Gunung Kidul

Belum juga dirilis ke pasar, film produksi PT. K2K Production yang berjudul "Dedemit Gunung Kidul" dan disutradarai oleh Yoyok Dumpring ini ternyata sudah menuai kontroversi. Alasannya klasik, film ini dianggap melecehkan. Hal tersebut setidaknya saya dapatkan dari forum online masyarakat lokal yaitu wonosari[dot]com dimana dalam salah satu topik diskusi sudah muncul ajakan boikot film Dedemit Gunung Kidul.

Saya pribadi tidak merasa terganggu dengan hadirnya film "Dedemit Gunung Kidul" yang rencananya akan dirilis pada tanggal 17 Maret 2011 ini. Saya menganggap bahwa film semacam ini merupakan sebuah komoditas industri hiburan dan perfilman tanah air semata, bukan sebagai sebuah media transmisi informasi nyata atau berita. Bagi sebagian orang di berbagai kota besar, mungkin Gunungkidul merupakan suatu daerah yang eksotis. Daerah batuan kapur yang konturnya tidak rata, kering, persebaran penduduknya tidak merata, dan masyarakatnya dinilai masih tradisional. Sehingga tidak heran jika film-film dengan tema seperti ini sebenarnya mudah dikembangkan dengan setting Gunungkidul.
poster film Dedemit Gunung Kidul

Bagi PT. K2K Production sendiri, saya kira ancaman boikot dari masyarakat Gunungkidul terhadap film "Dedemit Gunungkidul" (khususnya mereka yang bergabung di forum online wonosari[dot]com) bukan merupakan ancaman yang berarti. Kata “boikot”, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dapat dipahami sebagai sebuah bentuk penolakan kerjasama baik dalam bentuk perdagangan, pembicaraan, keikutsertaan, dan lain sebagainya. Sedangkan di wilayah Gunungkidul sendiri tidak ada jaringan 21cineplex yang tidak lain adalah pemilik jaringan bioskop terbesar di Indonesia. Oleh karena itu boikot macam apa yang akan mereka lakukan?

Hingga saat ini saya sendiri justru penasaran dengan aksi apa yang akan ditunjukkan oleh mereka yang menolak film "dedemit Gunung Kidul" ini. Jangan-jangan mereka hanya akan menjadi seperti anak cengeng yang merengek kepada pemerintah untuk bertindak lebih jauh (baca: mengintervensi). Sedangkan di sisi lain, saya paham bahwa pemerintah daerah Kabupaten Gunungkidul masih memiliki banyak sekali “pekerjaan rumah” yang jauh lebih esensial mulai dari masalah pembangunan infrastruktur, pengembangan pariwisata, pertanian, transportasi, dan lain sebagainya.

Selain itu justru menjadi satu keuntungan tersendiri bagi PT. K2K Production ketika film ini banyak dibicarakan di berbagai forum dunia maya ataupun media sosial seperti twitter dan facebook. Disengaja atau tidak akan tercipta kesadaran / awareness bagi pengguna media interaktif tersebut melalui word of mouth yang akhirnya justru berpotensi menimbulkan rasa penasaran / curiousity.
Perbandingan poster film Drive Angry dan Dedemit Gunung Kidul
Dari beberapa obrolan dengan teman-teman di situs microblogging twitter, saya justru menyayangkan poster film Dedemit Gunung Kidul yang terkesan (atau memang) mencontek poster film “Drive Angry” yang dibintangi oleh Nicolas Cage yang sekarang sudah beredar di jaringan 21cineplex. Bahkan mungkin karena terlalu “rapi” menconteknya, roda kemudi atau lebih dikenal sebagai steering wheel yang ada di mobil berada di posisi kiri dan tentunya itu tidak lazim bagi mobil-mobil yang ada di Gunungkidul. Secara menyeluruh, poster film ini juga masih “khas” seperti poster-poster film horor di Indonesia yang selalu dihiasi oleh sosok wanita montok (biasanya pemeran utama) dan sosok makhluk halus yang ada dalam film.

Dari segi copy, dalam judul film ini tertulis “Dedemit Gunung Kidul” dimana ketiga kata tersebut dipisah dan berada dalam baris yang berbeda. Artinya, sebenarnya ada kerancuan tentang “Gunung Kidul”. Jika kata “Gunung Kidul” ini merujuk pada nama kabupaten yang berada di sebelah timur Daerah Istimewa Yogyakarta seharusnya penulisan copy-nya menjadi “Gunungkidul” (digabung) bukan “Gunung Kidul” (dipisah menjadi dua kata).

Untuk memastikan semuanya, kita tunggu dan saksikan saja film ini saat sudah beredar.



Referensi:
Forum Komunitas Online Gunungkidul diakses tanggal 6 Maret 2011 melalui http://tinyurl.com/4gv5sfh
Lembaga Sensor Film diakses tanggal 6 Maret 2011 melalui http://tinyurl.com/4lta7pk
Upcoming Movies PT. K2K Production diakses tanggal 6 Maret 2011 melalui http://tinyurl.com/l98pfd

5 comments:

  1. Sebagai seorang putra Gunungkidul,sangat menyayangkan penggunaan Gunungkidul sebagai judul, apalagi kata "dedemit" di depannya. Kesan'e kok ra eco banget. Kenapa "mereka" selalu menonjolkan kekurangan dari gunungkidul?

    Tapi di industri film, kekuatan duit yang paling lantang berteriak.

    Semoga mereka lebih sensitif terhadap perasaan orang lain.

    ReplyDelete
  2. Menurut saya sih benar apa kata sampean pak, semakin ditolak film itu semakin dipromosikan, ya kira kira seperti film 2012

    http://jarwadi.wordpress.com/2011/03/16/mengecam-film-dedemit-gunungkidul/

    ReplyDelete
  3. PRofijo : Hmmm...menurut saya niat film tersebut tidak menonjolkan kekurangan Gunungkidul kok. Mereka hanya mengemas mitos suatu lokasi menjadi suatu film yang memiliki nilai komersial. Seperti yang sudah saya tulis diatas bagi sebagian masyarakat urban, Gunungkidul dilihat sebagai suatu daerah yang eksotis dimana ada masyarakatnya masih tradisional. Selain itu perlu diingat oleh Kita semua bahwa film ini hanyalah film fiksi yang sifatnya sebagai hiburan, bukan film dokumenter. Sayangnya, masih banyak orang di luar sana yang menganggap bahwa suatu film itu harus memiliki nilai pendidikan dan nilai informasi yang benar.

    @jarwadi : Terimakasih mas Jarwadi. Apalagi penolakan film itu dilakukan melalui aksi "tradisional" seperti yang dilakukan kemarin yang jelas-jelas akan memancing mata media. Dalam hal ini aksi tersebut menurut saya tidak akan memberikan perubahan legalitas yang signifikan, toh film ini sudah lulus dari sensor LSF.

    ReplyDelete
  4. Waaah, kita harus tuntut Drive Angry tuh karena njiplak poster Dedemit Gunung Kidul...

    ReplyDelete
  5. Did you know that you can shorten your long links with Shortest and make cash for every visitor to your shortened links.

    ReplyDelete